Rintik
hujan membasahi jalan-jalan di depan rumahku, embun yang menembus sampai ke
dinding kamarku. Aku melihat betapa deras hujannya saat itu, membuat aku
merasakan hangatnya merindukan, membuatku mengingat akan masa lalu yang baru
saja terlewati beberapa minggu lalu, iya minggu lalu tepat malam itu aku
merasakan betapa patah hati diriku. Yang aku ingat saat malam itu adalah,
tatapan matamu yang seakan aku tak akan pernah lupa, tatapan terakhir yang kau
berikan untukku sebelum kau tinggalkan aku di hari-hari yang sepi tanpamu.
Aku berdoa pada tuhan ,”ya tuhan,
jika ia lebih bahagia tanpaku berikanlah ia seseorang yang bisa membuatnya
bahagia, membuatnya tersenyum lebar, tertawa lepas, dan bercanda seakan aku tak
ada lagi didekatnya, tuhan, bantuk aku melupakannya dan melupakan kenangan ini,
karna hal tersulit bagiku adalah melihatnya bersama orang lain”
Malam yang sangat menyakiti untukku
sudah terlewat, pagi ini aku hanya seorang diri duduk di meja makan seperti biasa.
Adikku yang biasanya menemaniku sarapan pagi untuk kali ini tidak karena ia
berangkat lebih awal. Seperti biasa, aku bergegas berangkat sekolah dengan
salah satu teman sekolahku, panggil saja putri. Aku dan putri sudah terbiasa
bersama semenjak 9 tahun lalu. Dia adalah teman dekatku dan teman ceritaku.
Ia bertanya padaku di perjalanan
,”apa kamu sudah bisa melupakan dia dari satu minggu yang lalu?,”
,”hal tersulit untukku adalah
melupakannya, kamu harus tau itu. Karna melupakan tak semudah aku membalikkan
telapak tanganku,” jawabku.
Seperti di hari-hari biasa, aku
duduk dan aku hanya diam, diam ini yang membuatku seakan ingat dengan masa
laluku. Sepulang sekolahpun aku tak banyak bicara terhadap teman-temanku. Karna
yang aku tau, jika aku bercerita banyak hanya ceritaku yang mereka dengar tanpa
mereka tau bagaimana perasaanku sebenernya.
Hari demi hari aku lewati tanpa
kabarnya, tanpa wajahnya, senyumnya ataupun bicaranya, dan tak terasa aku sudah
melewati ini 4 bulan tanpanya. Mungkin saat ini aku baru sadar, bahwa banyak
lelaki yang lebih baik darinya, aku berfikir bahwa aku terlalu bodoh
menggalaukan dia yang hanya serpihan masa laluku. Masa lalu yang tak akan dapat
ku genggam lagi.
Tak terasa aku dekat dengan seorang
lelaki teman sekolahku, mungkin saja hanya jurusan saja kita berbeda, namanya
rayhan, ,menurutku dia baik padaku, perhatian dan selalu mengerti keadaanku
saat itu. Aku terlalu berharap lebih untuk mendapatkan dan memiliki hatinya.
Hari demi hari ini aku lewati bersama walaupun tanpa status kita melewati semua
ini, aku mengajaknya main bersama teman-temanku.
Hari sudah mulai malam, aku dan
rayhan beranjak pulang, aku diantarkannya sampai depan rumahku, yang aku
rasakan pada malam itu adalah hati yang tak tertebak, semua perasaan itu campur
aduk, seakan aku bisa melupakan masa laluku yang dulu. Mungkin ini yang
dinamakan cinta, cinta yang bisa buat hari-hariku indah dan tersenyum kembali.
Aku berdoa dalam hati ,”tuhan, terimakasih atas anugrah yang kau berikan,
dengan keberadaan rayhan di hidupku aku merasakan warna – warni perasaan itu
kembali di hidupku,”
Bisa dibilang sudah 2 bulan aku dan
rayhan pendekatan, tetapi mengapa ada perasaan yang tak terduga saat itu,
perasaan yang aku rasakan mulai pudar, hilang, dan aku mulai merasa jenuh
terhadapnya, aku merasakan jika aku hanya dipermainkan olehnya. Yang aku tau
saat itu rayhan tak hanya dekat denganku, tetapi ia juga dekat dengan teman
sejurusannya. Tapi apa boleh buat? Aku tidak boleh melarangnya untuk menjauhi
mereka, karna aku tau dimana posisiku.
Seminggu sudah rayhan tidak memberi
kabar padaku, tidak bbm, sms, ataupun meneleponku untuk waktu yang sebentar.
Aku membiarkannya tanpa aku bertanya pada orang lain tentangnya, aku menunggu
dia yang mengabariku karna dari cara ini lah aku akan tau seberapa besar rayhan
perduli terhadapku semenjak aku dan dia lost contact.
Tak kusangka, hari demi haripun aku
mendengar berita tentangnya bahwa ia telah berpacaran dengan teman sejurusannya
itu, aku bertanya pada temanku ,”apa yang kamu katakan benar tentang rayhan?”
Ia menjawab,” ia, dia berpacaran
dengan teman dekatnya,”
Saat ini aku baru menyadari bahwa
orang yang aku percaya akan hatinya, bisa menyakitiku dengan perlahan, aku bisa
bercerita ke semua orang tapi tak semua orang akan mengerti dengan perasaanku.
Saat ini hanya perasaan kecewa ke dua kalinya yang aku rasakan. Cinta? Aku
seakan tak percaya tentang cinta kembali, aku merasa patah hati kembali dan
merasakan kehidupan abu-abu itu kembali.
Aku sadar, bahwa cinta tak harus memiliki, walaupun semua
orang ingin memiliki, tetapi.. tak semua yang ingin kita miliki bisa